Kupang, 11 Maret 2026 – Di kala mentari perlahan tenggelam merayap cakrawala, kantor Lembaga Bantuan Hukum Surya Nusa Tenggara Timur ( LBH Surya NTT) berubah menjadi oase kehangatan yang memanggil pulang setiap insan di dalamnya. Bukan sekadar ruang kerja dengan tumpukan berkas dan dokumen hukum, sore itu gedung itu menjelma menjadi ruang sunyi yang dipenuhi denyut kebersamaan—sebuah persemayaman silaturahmi di tengah hiruk-pikul perjuangan advokasi yang tak pernah padam.
Mengusung tema "Mempererat Tali Silaturahmi", keluarga besar LBH Surya NTT—para advokat, advokat magang, dan paralegal—duduk melingkar dalam keakraban yang menembus sekat hierarki. Mereka datang bukan hanya sebagai pejuang hukum, tetapi sebagai saudara yang merayakan waktu bersama di ambang waktu berbuka. Ada ritus diam yang berbisik: bahwa kekuatan lembaga tidak hanya diukur dari jumlah kemenangan di meja hijau, tetapi dari eratnya simpul-simpul hati yang menyatukan para pengawal keadilan itu sendiri.
Cd. E. Nita Juwita, S.H., M.H., Ketua LBH Surya NTT, tampil bukan hanya sebagai pemimpin lembaga, tetapi juga sebagai perajut mimpi kolektif. Dalam sambutannya yang tenang namun berakar, ia menyampaikan refleksi yang menohok sekaligus membumi.
"Keadilan yang kita perjuangkan di ruang-ruang pengadilan tidak akan pernah cukup jika kita sendiri kehilangan rasa di antara kita. Silaturahmi ini bukan seremoni. Ia adalah napas yang menghidupkan kembali idealismeyang mulai usang digerus lelah. Saat kita duduk bersama seperti ini, kita sedang menata kembali fondasi—bahwa untuk berdiri kokoh menghadapi kerasnya dunia, kita harus saling mengikatkan jiwa."
Kata-kata itu mengalun pelan, menyentup relung-relung hati yang hadir. Di ruang itu, tak ada jarak antara senior dan junior, tak ada sekat antara pengalaman dan pembelajaran. Semua melebur dalam sunyi yang hangat, menanti azan Magrib sebagai penanda bahwa waktu untuk berbagi telah tiba.
Ketika suara azan akhirnya bergema, mengiris senja dengan lantunan suci, mereka bersama menyantap hidangan sederhana—bukan sekadar menahan lapar, tetapi merayakan kebersamaan yang lebih dalam dari sekadar rasa kenyang. Acara itu menjadi perjalanan spiritual yang merawat kelembutan di tengah profesi yang kerap keras dan penuh benturan.
Di tengah kehangatan yang mengalir, satu nama terasa absen dari lingkaran kebersamaan itu. Herry F.F. Battileo, S.H., M.H., pendiri sekaligus pengawas LBH Surya NTT, harus menepi karena sakit. Meski raganya tak mampu hadir, suaranya tetap menyapa melalui selarik pesan singkat yang dikirimkan melalui aplikasi perpesanan. "Jaga selalu kompak, rawat kerukunan. Kekuatan kita bukan pada gelar, tetapi pada hati yang bersatu," tulisnya dalam pesan yang kemudian dibacakan di hadapan seluruh anggota. Pesan itu menggantung di udara, menjadi pengingat bahwa meski jarak memisahkan, semangat kebersamaan tak pernah padam.
Seorang advokat magang, dengan mata berbinar, melontarkan kesan yang mengalir jujur: "Saya merasa seperti menemukan rumah di sini. Bukan hanya tempat bekerja, tetapi tempat di mana nilai-nilai kemanusiaan dirawat dengan caranya sendiri. Ini mengajarkan saya bahwa menjadi advokat bukan hanya soal pasal dan vonis, tetapi soal bagaimana kita tetap manusia di tengah segala hiruk-pikuk."
Di sudut lain, seorang paralegal hanya tersenyum, memandangi rekan-rekannya dengan pandangan teduh. Ada rasa yang tak terucap, namun hadir sebagai magnet yang menyatukan: bahwa perjuangan hukum adalah tentang keberpihakan, dan keberpihakan hanya lahir dari hati yang terhubung.
Acara yang sederhana dalam wujud, namun dalam dalam makna itu, menjadi pengingat bahwa di tengah medan perjuangan hukum yang kerap dingin dan prosedural, masih ada ruang bagi kehangatan untuk bersemi. Bahwa advokat bukan hanya penjaga hukum, tetapi juga penjaga nurani.
LBH Surya NTT, melalui buka puasa bersama ini, tak hanya mengisi perut, tetapi menyirami jiwa. Menanam benih soliditas yang kelak akan berbuah dalam setiap langkah advokasi, dalam setiap pendampingan, dalam setiap keberpihakan kepada mereka yang tersisih.
Di ujung senja Kupang, lentera silaturahmi itu dinyalakan. Dan seperti cahaya yang tak pernah padam meski angin menerpa, ia akan terus menyala—menuntun langkah-langkah keadilan di tanah Nusa Tenggara Timur.


